Dua Kaki Bersepatu Sekolah
dear maya,
Tanpa terasa, sudah lama juga tidak lagi bercerita dengan dunia maya tentang cerita cerita kecil yang cenderung membosankan. Tapi kali ini aku coba kembali membuka sedikit gumaman, umpatan atau bahkan ilusi yang hinggap dikepalaku.
Kali ini aku berilusi tentang dua kaki yang bersepatu sekolah. Kaki, Berjalan beriringan tapi tidak bersamaan. Begitu cara kerja kaki manusia yang menurutku adalah unik, siapa yang berakal sehat pasti akan menerima hal ini sebagai hal semestinya dan lumrah. Cukup lama aku memperhatikan cara kerja dua kaki yang sedikit mengesankan bagiku. Tapi melihat perbedaan dan persamaan dari kedua kaki ini kadang membuat rasa geli juga,tidak segan dalam ilusi pun aku tersenyum sendiri.
Mari, aku akan menjelasnya penilaianku yang cukup serius tentang dua kaki bersepatu sekolah ini.
Kaki kiri. Aku melihat kaki kiri berbetis maradona, cukup kuat untuk berlari dalam futsal dan aku pun pernah melihatnya menggolkan bola ke gawang lawan -walau jarang, karena posisinya hanya sebagai defender- dalam pertandingan futsal. Jika dipaksa curhat-curhatan dalam futsal, sebenernya dia akan memilih sebagai playmaker diposisi tengah, mensuplai bola ke penyerang dan juga terlibat sengit dalam pertahanan jika lawan menyerang. keinginan dalam curhat-curhatan itu karena keyakinan pemainnya pada kaki kiri yang berbetis maradona ini, Percaya diri tentunya. tapi apa daya, entah mengapa banyak lelaki didunia sekitarnya jarang mau pada posisi itu, penilaian mereka posisi itu tidak elite dan tidak banyak mendapat sorotan. sialnya, `elite` dan `sorotan` bagi baginya tidak penting sama sekali dalam futsal. penilaianku, kaki kiri ini kejutan, banyak hal yang tidak terduga bisa dilakukannya.
Kaki kanan. Aku melihat kaki kanan cenderung kaki yang imut. penerjemahan imut ini seperti kaki meja -konotasi dalam senda gurau pertemanan-, kuat tapi tidak berbulu. Bayangkan, karena begitu kuatnya, pernah kaki ini menendang batok kepala seekor kambing dan membuat kambing itu meringis sambil menggaruk jenggotnya dengan kaki. walau begitu keras kaki kanan tersebut, tapi ternyata lebih sensitif terhadap goresan, aku menduga beberapa goresan telah mencederai-nya. Kelihatan pada kaki yang tidak berbulu itu. Penilaianku, kaki kanan ini andalan, pada kaki ini kulihat lebih banyak tumpuan yang lebih serius.
Kedua kaki ini bersepatu sekolah, begitulah sepatu yang diberikan pada kaki kaki ini oleh orang -yang lebih dituakan-. Tidak penting mempersoalnya mengapa bersepatu sekolah, karena memang masanya. Walau beberapa orang mempersoalkannya, tapi pemiliranku malah cenderung bagaimana memfasilitasinya dan mempersiapkannya dan tidak akan cedera jika nanti bersepatu boot dan siap gagah layaknya seorang laki laki dewasa yang punya kaki dan tangan. Pernah kudengar bisikan orang dalam rapat yang mempertanyakan mengapa orang dengan kaki bersepatu sekolah terlalu melindungi kedua kaki-nya itu, tanpa merasa bersalah -sampai sekarang pun- aku masih tetap tidak setuju dengan bisikan itu, penilaianku bahwa masing masing kaki memang harus dilindungi -apalagi masih bersepatu sekolah-, dan kenyataannya tanpa perlindungan kaki cenderung akan cedera -walau sering juga dengan melindungi juga menjadi cedera- .
Aku melihat, satu masa terakhir ini kedua tangan jarang memberikan perhatian pada dua kaki tersebut, membersihkan dari luka atau pun membasuh dengan air jika sudah terlihat kotor dan sebagainya. Kedua tangan ini sibuk memegang erat pagar pembatas dan pentungan, karena hampir setiap waktu karena kambing -yang dibiarkan tuannya- itu sering sekali menginjak-injak dan mengembik seenaknya tanpa memikirkan akibat pada hal yang esensial.
Melihat kejadian itu aku tetap berpendapat bahwa tangan tersebut melalukan kesalahan, tangan harus berkonsep sebagai
tangan, kaki berlaku sebagai kaki. lalu bagaimana dengan kambing? bukannya menjadi hal terganjil jika mengharapkan kambing dapat berjalan pada jalan kambing -sendiri
-?
Aku telah menemukan konsep -yang terkesan biasa- untuk disarankan pada korelasi tangan dengan kaki tersebut dan hubungannya dengan kambing yang tidak esensial itu. cara yang sangat sangat sederhana dan terkesan biasa biasa saja, tapi coba untuk memikirkan lebih dalam tentang akurasi dan akibat, konsep tersebut adalah `melepas kaki satu tangan`.
Suara dari langit malam kemaren menjelaskan hal terbaik yang layak dilakukan. Aku telah mengumpulkan taktik -sejenis todo list- untuk kuajukan ke orang dengan kaki bersepatu sekolah tersebut. Apa yang dikerjakan pada tangan dan kapan melepas pembatas pada kaki. Ini harus cepat kulakukan untuk sahabatku itu, mengingat kaki juga sebentar lagi akan berganti sepatu.
About this entry
You’re currently reading “Dua Kaki Bersepatu Sekolah,” an entry on xidea
- Published:
- June 11, 2009 / 9:32 am
- Category:
- Indonesiana, Pertanyaan, opini, umum
- Tags:
2 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]